Jumat, 24 Mei 2013
Selasa, 07 Mei 2013
3 hati 2 dunia 1 cinta
Sinopsis Film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta

Arumi Bachsin dalam film 3 hati dua dunia satu cinta
Rosid, pemuda muslim yang idealis
dan terobsesi menjadi seniman besar seperti WS Rendra. Gaya seniman Rosid
dengan rambut kribonya membuat Mansur, sang ayah, gusar karena tidak mungkin
bagi Rosid untuk memakai peci. Padahal peci—bagi Mansur—adalah lambang
kesalehan dan kesetiaan kepada tradisi keagamaan. Bagi Rosid, bukan sekadar
kribonya yang membuatnya tidak mungkin memakai peci, melainkan karena Rosid
tidak ingin keberagamaannya dicampur-baur oleh sekadar tradisi leluhur yang
disakralkan
Delia, seorang gadis katolik
berwajah manis, kepincut pada sosok Rosid. Tentu saja ini hubungan yang nekad .
Rosid dan Delia adalah dua anak muda yang rasional dalam menyikapi perbedaan.
Tapi orang tua mana yang rela dengan kisah cinta mereka. Maka mereka pun
mencari cara untuk memisahkan Rosid dan Delia. Jurus Frans dan Martha, orang
tua Delia, adalah dengan mencoba mengirim Delia sekolah ke Amerika.
Berbeda lagi dengan Mansur. Ia
berupaya menjinakkan Rosid dengan meminta nasihat Said, sepupunya yang ternyata
tega menipunya Muzna, ibunda yang sangat dihormati Rosid, pun turun tangan.
Sang Ibu dengan bantuan Rodiah, adik suaminya, menjodohkan Rosid dengan Nabila,
gadis cantik berjilbab yang ternyata mengidolakan Rosid, sang penyair. Memang,
cinta Rosid dan Delia begitu kuat, tapi sekuat itu juga tantangannya. Selain
perbedaan agama ternyata ada beban psikologis yang harus dihadapi jika mereka
meneruskan hubungan itu hingga ke ikatan pernikahan. Berhasilkah mereka bersatu
dalam ikatan perkawinan? Memang nasib cinta tak ada seorang pun yang tahu.
Muzna, ibunda
yang sangat dihormati Rosid, pun turun tangan. Sang Ibu dengan bantuan Rodiah,
adik suaminya, menjodohkan Rosid dengan Nabila, gadis cantik berjilbab yang
ternyata mengidolakan Rosid, sang penyair. Memang, cinta Rosid dan Delia begitu
kuat, tapi sekuat itu juga tantangannya. Selain perbedaan agama ternyata ada
beban psikologis yang harus dihadapi jika mereka meneruskan hubungan itu hingga
ke ikatan pernikahan. Berhasilkah mereka bersatu dalam ikatan perkawinan?
Memang nasib cinta tak ada seorang pun yang tahu.
Sudah pernah
nonton film “3 Hati 2 Dunia 1 Cinta” belum? Kalo belum, nggak usah malu. Itu
karena film ini isinya nggak penting alias nggak bermutu. Tema yang diangkat
oleh film ini adalah hubungan cinta beda agama antara laki-laki muslim dengan
perempuan non muslim. Diceritakan dalam film tersebut tentang cinta sepasang
remaja yang berbeda keyakinan. Antara Rosid dan Delia. Rosid adalah seorang
seniman keturunan Arab sedangkan Delia adalah seorang penganut Kristen Katolik.
Film ini diangkat dari sebuah novel berjudul “The Da Peci Code”. Dalam film ini
tokoh Rosid yang kribo diperankan oleh Reza Rahadian. Dalam film ini juga turut
bermain Laura Basuki dan Arumi Bachsin.
Campur aduk hak dan
batil
Usaha
musuh-musuh Islam untuk mengalahkan kaum muslimin begitu kreatif. Anak-anak
muda yang cenderung suka having fun dicekoki dengan film yang
mengarahkan ke tujuan tertentu. Tak bisa meraih tujuan dengan cara biasa, maka
diambillah langkah tak biasa. Toleransi semu yang seringkali digembar-gemborkan
misalnya ajakan untuk merayakan hari raya agama lain tak berhasil, maka
dicarilah cara lain. Salah satunya adalah dengan memberikan topik ringan yang
disuka kaum muda yaitu tema cinta.
Toleransi
semu yang melibatkan perasaan, seringkali menjebak banyak kaum muda. Jiwa muda
yang menggelora dan meledak-ledak apalagi untuk urusan cinta menjadi begitu
mudah dimanipulasi. Sudah pada dasarnya orang yang jatuh cinta itu seringkali
logikanya meluncur ke level paling rendah, ditambah lagi dengan cinta buta
terhadap lawan jenis beda keyakinan. Top dah, cinta buta bin tolol yang pernah ada
di dunia.
Gula Jawa rasa coklat, logika
miring orang jatuh cinta. Tapi ini masih mendinglah, daripada tahi kucing rasa
coklat. Ini logika orang gila yang kehilangan indra perasa. Tapi di antara itu
semua, ada yang kehilangan akal sehat melebihi sekadar kehilangan indra perasa
seperti perumpamaan di atas. Yaitu ketika jatuh cinta pada seseorang beda
keyakinan, dinasehatin tetap saja ngeyel, bahkan suka memutar balik ayat hanya
sekadar mencari pembenaran plus durhaka sama orang tua demi cinta buta. Pesan-pesan
seperti inilah yang berusaha ditanamkan dalam film ini.
Sobat muda, hubungan
“cinta-kasih” beda agama itu bukan masalah sepele. Bukan cuma melibatkan hati
dan perasaan saja, tapi lebih ke berbagai aspek luas lainnya. Di sini nanti
akan bersinggungan dengan yang namanya etika pergaulan antar lawan jenis. Bila
berhubungan dengan seseorang yang beda keyakinan, akan ribet urusannya karena
si dia pasti terheran-heran bahwa ada agama yang begitu mengatur secara detil
tentang pergaulan. Belum lagi terkait juga dengan keberatan dari kedua belah
pihak karena itu nantinya pihak keluarga harus siap menerima calon anggota
keluarga yang berbeda keyakinan, dan itu tidak mudah. Yang paling penting
adalah terkait dengan akidah yang ini urusannya sama sekali tidak bisa
dipandang enteng. Dunia dan akhirat, Bro!
Telah jelas yang hak dan yang
batil itu. Adanya hubungan beda keyakinan ibarat mencampur air susu dengan air
comberan. Apakah kamu mau meminum air yang sudah terkontaminasi ini? Boro-boro
disuruh minum, mendengarnya saja kamu pasti sudah jijay bajay alias ogah
banget. Seperti ini juga gambaran orang yang menjalin hubungan asmara dengan
beda keyakinan. Bila perempuannya muslimah dan laki-lakinya non muslim,
hubungan seperti ini sudah jelas haram. Ikatan mereka tidak sah, bahkan
hubungan suami istri mereka statusnya sama dengan berzina. Naudzubillah.
Bila yang laki-lakinya muslim
dan perempuannya non muslim, memang ada sedikit perbedaan pendapat di kalangan
ulama dalam masalah ini. Perbedaan pendapat inilah yang sepertinya dimanfaatkan
oleh orang-orang liberal yang berada di balik pembuatan film “3 Hati 2 Dunia 1
Cinta” untuk dibidik dalam melemehkan keyakinan pemuda muslim lainnya. Ada
pendapat yang membolehkan bila laki-lakinya muslim, karena dialah yang akan
menjadi imam dalam keluarga. Diharapkan ia bisa memimpin istri dan anak-anaknya
agar masuk Islam bersama-sama. Tapi bagaimana bila kenyataan berbicara
sebaliknya? Hmm…
Pemurtadan terselubung
Banyak kasus
terjadi, laki-laki tidak bisa membuat istrinya yang beda agama agar mau memeluk
Islam. Sebaliknya, si suami malah terseret murtad karena bujuk rayu mulut
perempuan non muslim yang telah menjadi istrinya itu. Si suami pun mudah
tergoda dengan alasan demi keutuhan rumah tangga dan anak-anak. Bukannya
menyelamatkan keluarga dari siksa api neraka seperti yang diperintahkan dalam
al-Quran, si suami malah dengan sukarela akhirnya menapak jejak yang
mendekatkannya pada neraka jahanam.
Firman Allah Swt. (yang artinya): “Dan janganlah kamu menikahi
wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang
mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan
janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin)
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang
musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah
mengajak ke surga dan ampunan dengan izinNya. Dan Allah menerangkan
ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil
pelajaran.” (QS al-Baqarah [2]: 221)
Yang sudah menikah saja kasus
seperti ini banyak, apalagi yang belum menikah. Selain pemurtadan, kedua
pasangan ini akan banyak melanggar etika pergaulan dalam Islam. Misalnya saja
berkhalwat atau berdua-duaan dengan non mahram alias mojok berdua sebagaimana
pada umumnya aktivitas pacaran. Masa’ iya hubungan dengan seorang non muslim
diajak berta’aruf yang islami? Pastilah akan banyak pertanyaan dan keberatan
yang menyertai. Tidak bisa tidak, memahamkan secara akidah harus diberikan
sebelum sampai pada etika hubungan dengan lawan jenis. Nah, bisakah ini
dilakukan?
Kamu jangan
lupa juga bahwa seringkali orang yang nekat menjalin hubungan asmara beda agama
adalah mereka yang cenderung tidak paham terhadap Islam. Bila pun mereka mengaku
paham, sebetulnya mereka cuma hapal tanpa tahu konteks makna dalil yang
dihapalkan itu. Hal ini banyak menimpa mereka yang sok hapal plus sik tahu
banyak dalil kemudian dengan sombongnya memutar balik ayat. Bahkan ada juga
seorang yang mengaku dirinya ulama, anak perempuannya malah menikah dengan non
muslim keturunan yahudi. Bahkan dia sendiri yang menjadi wali bagi anaknya yang
itu artinya dia restui poerzinaan tersebut. Sebab, menurut hukum Islam,
haram seorang muslimah menikah dengan orang musyrik dan kafir.
Upaya para
manusia yang mengaku dirinya ulama dan cendekiawan muslim ini jelas-jelas
merusak. Mereka mempunyai makar, tapi rencana Allah jauh lebih dahsyat untuk
menggagalkan upaya liberalisasi ide Islam ini. Firman Allah Swt. (yang
artinya): “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu
daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS
Ali Imraan [3]: 54)
Bro en Sis, mereka sering kalah
dan gagal ketika duduk berdialog dengan ulama dan cendekiawan Islam yang lurus.
Karena gagal di ranah ilmiah inilah, akhirnya ada orang-orang yang seide dengan
para sekularis bin liberalis ini mengangkatnya dengan tema hiburan berupa film.
Cemen banget dah!
Be careful!
Setelah
mendapatkan wawasan baru tentang upaya musuh-musuh Islam dalam merusak generasi
muda muslim, kamu kudu waspada. Nonton film tersebut sih boleh-boleh saja, tapi
kamu kudu siap dengan saringan atau filternya. Apaan tuh filternya? Tentu saja
Islam dong. Emang ada filter yang lain selain Islam? Jawabnya tak ada filter
yang mampu menyaring sampah-sampah ide kotor semisal toleransi semu ala
sekularis kecuali Islam saja.
Nonton film
tak sekadar nonton film. Karena setiap perbuatan anak manusia akan
dipertanggungjawabkan di yaumul akhir nanti, maka berbuatlah bijaksana meskipun
hanya untuk nonton film ini. Seharusnya setelah membaca uraian di atas, kamu
bisa menyikapi dengan bijak isi film tersebut dan menangkap makna tersirat
dalam upaya melegalkan kawin campur beda keyakinan yang merusak itu. Kamu
semakin kritis dan cerdas, plus juga makin hati-hati dalam memilih
tontonan.Ingat, fungsi tontonan saat ini sangat berpeluang besar untuk menjadi
tuntunan alias ditiru oleh para penontonnnya. Jangan sampai kamu terjerumus!
Menonton film apalagi yang merusak akidah dan pemahaman, kudu hati-hati banget.
Perkuat dulu keimanan dan wawasan keislaman kamu. Jangan sampai niat hati mau
cari hiburan tapi malah menjerumuskan. Begitu juga dengan teman-teman kamu yang
biasanya pada demen nonton film. Paling tidak pelajari dulu isi film, pahamkan
tentang muatannya yang merusak akidah dan mengajak pada kebatilan, baru deh
nonton filmnya penuh dengan kekritisan khas pemuda muslim yang cerdas. Kalau
ini yang kamu lakukan, so pasti keimanan dan kecerdasan kamu bakal
makin meningkat, insya Allah. Wawasan ini tak boleh hanya diketahui oleh kamu
sendiri saja. Sebarkan isi artikel ini sehingga akan banyak generasi muda
muslim yang terselamatkan pemikirannya. Karena hubungan beda agama, jelas-jelas
tak membawa manfaat apa pun bagi pelakunya. Selain aktivitasnya yang notabene
mendekati zina dengan pacaran, sangat berpeluang mengajak kamu kepada meragukan
keyakinanmu.
TUGAS INDIVIDU
MATA KULIAH
PSIKOLOGI KONSELING KELUARGA
BEDAH FILM 3 CINTA 2 DUNIA 1 HATI

DI SUSUN
JASNI
NPM : 10. 17. 0. 035
FKIP BIMBINGAN KONSELING
UNIVERSITAS RIAU KEPULAUAN (
UNRIKA)
BATAM 2012
MAKALAH INTRUMEN DALAM BK
TUGAS INDIVIDU INSTRUMEN DALAM SEKOLAH LAPORAN PEMERIKSAAN
KONSELING SEBAGAI SYARAT MENGIKUTI UAS SEMESTER IV TAHUN AJARAN 2012/2013

DI SUSUN OLEH :
NAMA: JASNI
NPM: 10.17.0.035
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU KEPULAUAN ( UNRIKA )
BATAM 2012
Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling
DESKRIPSI KASUS

Lia (bukan nama sebenarnya) adalah
siswa kelas I SMAN 1 Batam yang barusan naik kelas II. Ia berasal dari keluarga
nelayan yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa sembulang Kecamatan
Galang Kota Batam, sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan
setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMAN 1 Batam, orang tua sebetulnya berharap
agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota, tapi atas
bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya
melanjutkan sekolah. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas
diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMA.
Sejak diterima di SMAN 1 Batam di
satu pihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima, tetapi di lain fihak
mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya
dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. Ia menganggap
teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois, kurang
bersahabat, pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja, dan
sombong. Makin lama perasaan ditolak, terisolik, dan kesepian makin mencekam dan
mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak
krasan, tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung; terus
bertahan, susah tak ada/punya teman yang peduli.
Dasar saya anak desa, anak miskin
(dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. Akhirnya
benar-benar menjadi anak minder, pemalu dan serta ragu dan takut bergaul
sebagaimana mestinya. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran
dan perasaan makin berat, sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak.
KONSELOR MEMAHAMI LIA DENGAN PERSPEKTIF MENGGUNAKAN TEKHNIK KONSELING
RASIONAL EMOTIF
Menurut pandangan rasional emotif,
manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak
rasional, manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya
berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik
bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri, orang lain, dan
dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. Akibatnya
berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya,
akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara
tingkah laku yang realistis dan dewasa; selain itu manusia juga mempunyai
kecenderungan untuk melebih-lebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang
justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya
sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang
diperolehnya.
Berpikir dan
merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran
dapat menjadi perasaan dan sebaliknya, Apa yang dipikirkan dan atau apa yang
dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional
atau irasional. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh
orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan
memuaskan diri sekalipun irasional.
Ciri-ciri irasional seseorang tak
dapat dibuktikan kebenarannya, memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui
harus terjadi, mengontrol dunia, dan jika tidak dapat melakukannya dianggap
goblok dan tak berguna; menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan)
yang sebenarnya tak perlu, tak terlalu jelek/memalukan namun dibiarkan terus
berlangsung, dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya.
Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. Bentuk-bentuk
pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya
harus menyenangi saya, kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti
malapetaka bagi saya. Itu berarti salah saya, karena saya tak berharga, tak
seperti orang/teman-teman lainnya. Saya pantas menderita karena semuanya itu.
Sehubungan dengan kasus, Lia
sebetulnya terlahir dengan potensi unggul, ia menjadi bermasalah karena
perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional; ia telah menempatkan
harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya, semua teman
memperhatikan / mendukung, peduli, dan lain-lain dan itu semua tidak
ada/didapatkan sejak di SMU, sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri
dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. Ia telah
berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan
yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. Ia menjadi minder,
pemalu, penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang
sebetulnya tidak perlu terjadi.
TUJUAN DAN TEKHNIK KONSELING YANG DI GUNAKAN KONSELOR
Jika pemikiran Lia yang tidak logis
/ realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya)
itu diperangi maka dia akan mengubahnya. Dengan demikian tujuan konseling
adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan /
kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman
lain.
Dalam
konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia, mengajak
berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir
irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif, sugestif,
pemberian nasehat secara tepat, terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip
belajar untuk PR serta bibliografi terapi.
Konseling
kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional
tentang konsep harga diri yang salah, sikap terhadap sesama teman yang salah
jika ingin lebih bahagia dan sukses. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi
nasehat, konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal, sugesti dan
asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan
sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR
melatih, mengobservasi dan evaluasi diri.
Contoh :
Mulai dari seseorang berharga bukan dari
kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung, tetapi pada kasih Allah
dan perwujudanNya. Allah mengasihi saya, karena saya berharga dihadiratNya.
Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang, puas dan bangga, tetapi
kadang-kadang acuh-tak acuh, bahkan adakalanya saya benci, memaki-maki diri
saya sendiri, sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu
kelas misalnya ada + 40% yang baik, 50% netral, hanya 10% saja yang membeci
saya. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada
saya, dan seterusnya. Ide-ide ini diajarkan, dan dilatihkan dengan pendekatan
ilmiah.
Konseling
emotif-evolatif :
Untuk mengubah sistem nilai Lia dengan
menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian
contoh, bermain peran, dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan
perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai
kelanjutan teknik kognitif di atas. Konseling behavioritas digunakan untuk
mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang
irasional/tak logis kontrak reinforcemen, sosial modeling dan
relaksasi/meditasi.
PENUTUP
Teori ini dalam menolong menggunakan
pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah
dengan intektual dan meyakinkan (koselor). Tekniknya jelas, teliti, makin
melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada
diri sendiri, yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. Cara konselor ialah
dengan pendekatan yang tegas, memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang
menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi
hingga membawa akibat yang merugikan.
Konselor selanjutnya menolong dia
untuk memikir kembali, menantang, mendebat, menyebutkan kembali kalimat-kalimat
yang merugikan itu, dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan
tilikan baru. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. Ia harus dilatih untuk
berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan
realistik.
Terapis mengajar klien untuk
berpikir betul dan bertindak efektif. Teknik yang dipakai bersifat eklektif
dengan pertimbangan :
- Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli.
- Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli.
- Kesegaran hasil yang dicapai.
- Kedalaman dan tahan lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah.
Kesimpulannya,
penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi
menyangkut langkah-langkah sebagai berikut :
(1) mengakui sepenuhnya bahwa kita
sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri
(2) menerima
pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguan-gangguan
secara berarti
(3) menyadari
bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak
rasional
(4) mempersepsi dengan jelas
kepercayaan-kepercayaan ini
(5) menerima kenyataan bahwa, jika kita
mengharap untuk berubah, kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku
dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan
perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti
(6)
mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah
konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Aryatmi, S., 1991, Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi, Satya Wacana Semarang.
Corey G., 1991/1995, Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto), IKIP Semarang Pres.
Prayitno, 1998, Konseling Pancawashita, progdi BK PPB, FIP, IKIP Padang
Rosjidan, 1998, Pengantar Teori-teori Konseling, Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK, Jakarta
Surya, M., 1988, Dasar-Dasar Konseling Pendidikan, Kota Kembang, Yogyakarta.
KATA PENGANTAR
Puji
syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNyalah
sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini dengan penuh keyakinan serta usaha
yang maksimal. Semoga dengan terselesaikannya tugas ini dapat memberikan
pelajaran positif bagi kita semua. Selanjutnya saya juga mengucapkan terima
kasih kepada Cevy Amelia M. Psi sebagai dosen pembimbing mata kuliah Intrumen
BK Dalam Sekolah yang telah mempercayakan tugas ini kepada saya sehingga dapat
memicu motifasi saya untuk senantiasa belajar lebih giat dan menggali ilmu
lebih dalam sehingga dapat menemukan hal-hal baru yang belum saya ketahui.
Terima
kasih juga saya sampaikan atas petunjuk yang diberikan sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini dengan usaha yang
maksimal .Terima kasih atas dukungan para pihak yang turut membantu
terselesaikannya makalah ini,teman-teman serta semua pihak yang penuh kebaikan
dalam membantu saya.
Terakhir
sekali sebagai manusia biasa yang mencoba berusaha sekuat tenaga dalam
menyelesikan makalah ini tetapi tetap saja tidak luput dari sifat manusiawi
yang penuh khilaf dan salah,oleh karena itu segenap saran saya harapkan dari
semua pihak guna perbaikan tugas-tugas serupa di masa mendatang.
Penyusun
Langganan:
Postingan (Atom)










