TUGAS INDIVIDU INSTRUMEN DALAM SEKOLAH LAPORAN PEMERIKSAAN
KONSELING SEBAGAI SYARAT MENGIKUTI UAS SEMESTER IV TAHUN AJARAN 2012/2013

DI SUSUN OLEH :
NAMA: JASNI
NPM: 10.17.0.035
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU KEPULAUAN ( UNRIKA )
BATAM 2012
Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling
DESKRIPSI KASUS

Lia (bukan nama sebenarnya) adalah
siswa kelas I SMAN 1 Batam yang barusan naik kelas II. Ia berasal dari keluarga
nelayan yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa sembulang Kecamatan
Galang Kota Batam, sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan
setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMAN 1 Batam, orang tua sebetulnya berharap
agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota, tapi atas
bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya
melanjutkan sekolah. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas
diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMA.
Sejak diterima di SMAN 1 Batam di
satu pihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima, tetapi di lain fihak
mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya
dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. Ia menganggap
teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois, kurang
bersahabat, pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja, dan
sombong. Makin lama perasaan ditolak, terisolik, dan kesepian makin mencekam dan
mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak
krasan, tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung; terus
bertahan, susah tak ada/punya teman yang peduli.
Dasar saya anak desa, anak miskin
(dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. Akhirnya
benar-benar menjadi anak minder, pemalu dan serta ragu dan takut bergaul
sebagaimana mestinya. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran
dan perasaan makin berat, sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak.
KONSELOR MEMAHAMI LIA DENGAN PERSPEKTIF MENGGUNAKAN TEKHNIK KONSELING
RASIONAL EMOTIF
Menurut pandangan rasional emotif,
manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak
rasional, manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya
berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik
bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri, orang lain, dan
dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. Akibatnya
berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya,
akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara
tingkah laku yang realistis dan dewasa; selain itu manusia juga mempunyai
kecenderungan untuk melebih-lebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang
justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya
sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang
diperolehnya.
Berpikir dan
merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran
dapat menjadi perasaan dan sebaliknya, Apa yang dipikirkan dan atau apa yang
dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional
atau irasional. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh
orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan
memuaskan diri sekalipun irasional.
Ciri-ciri irasional seseorang tak
dapat dibuktikan kebenarannya, memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui
harus terjadi, mengontrol dunia, dan jika tidak dapat melakukannya dianggap
goblok dan tak berguna; menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan)
yang sebenarnya tak perlu, tak terlalu jelek/memalukan namun dibiarkan terus
berlangsung, dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya.
Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. Bentuk-bentuk
pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya
harus menyenangi saya, kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti
malapetaka bagi saya. Itu berarti salah saya, karena saya tak berharga, tak
seperti orang/teman-teman lainnya. Saya pantas menderita karena semuanya itu.
Sehubungan dengan kasus, Lia
sebetulnya terlahir dengan potensi unggul, ia menjadi bermasalah karena
perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional; ia telah menempatkan
harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya, semua teman
memperhatikan / mendukung, peduli, dan lain-lain dan itu semua tidak
ada/didapatkan sejak di SMU, sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri
dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. Ia telah
berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan
yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. Ia menjadi minder,
pemalu, penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang
sebetulnya tidak perlu terjadi.
TUJUAN DAN TEKHNIK KONSELING YANG DI GUNAKAN KONSELOR
Jika pemikiran Lia yang tidak logis
/ realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya)
itu diperangi maka dia akan mengubahnya. Dengan demikian tujuan konseling
adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan /
kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman
lain.
Dalam
konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia, mengajak
berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir
irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif, sugestif,
pemberian nasehat secara tepat, terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip
belajar untuk PR serta bibliografi terapi.
Konseling
kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional
tentang konsep harga diri yang salah, sikap terhadap sesama teman yang salah
jika ingin lebih bahagia dan sukses. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi
nasehat, konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal, sugesti dan
asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan
sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR
melatih, mengobservasi dan evaluasi diri.
Contoh :
Mulai dari seseorang berharga bukan dari
kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung, tetapi pada kasih Allah
dan perwujudanNya. Allah mengasihi saya, karena saya berharga dihadiratNya.
Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang, puas dan bangga, tetapi
kadang-kadang acuh-tak acuh, bahkan adakalanya saya benci, memaki-maki diri
saya sendiri, sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu
kelas misalnya ada + 40% yang baik, 50% netral, hanya 10% saja yang membeci
saya. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada
saya, dan seterusnya. Ide-ide ini diajarkan, dan dilatihkan dengan pendekatan
ilmiah.
Konseling
emotif-evolatif :
Untuk mengubah sistem nilai Lia dengan
menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian
contoh, bermain peran, dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan
perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai
kelanjutan teknik kognitif di atas. Konseling behavioritas digunakan untuk
mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang
irasional/tak logis kontrak reinforcemen, sosial modeling dan
relaksasi/meditasi.
PENUTUP
Teori ini dalam menolong menggunakan
pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah
dengan intektual dan meyakinkan (koselor). Tekniknya jelas, teliti, makin
melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada
diri sendiri, yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. Cara konselor ialah
dengan pendekatan yang tegas, memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang
menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi
hingga membawa akibat yang merugikan.
Konselor selanjutnya menolong dia
untuk memikir kembali, menantang, mendebat, menyebutkan kembali kalimat-kalimat
yang merugikan itu, dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan
tilikan baru. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. Ia harus dilatih untuk
berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan
realistik.
Terapis mengajar klien untuk
berpikir betul dan bertindak efektif. Teknik yang dipakai bersifat eklektif
dengan pertimbangan :
- Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli.
- Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli.
- Kesegaran hasil yang dicapai.
- Kedalaman dan tahan lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah.
Kesimpulannya,
penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi
menyangkut langkah-langkah sebagai berikut :
(1) mengakui sepenuhnya bahwa kita
sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri
(2) menerima
pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguan-gangguan
secara berarti
(3) menyadari
bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak
rasional
(4) mempersepsi dengan jelas
kepercayaan-kepercayaan ini
(5) menerima kenyataan bahwa, jika kita
mengharap untuk berubah, kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku
dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan
perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti
(6)
mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah
konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Aryatmi, S., 1991, Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi, Satya Wacana Semarang.
Corey G., 1991/1995, Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto), IKIP Semarang Pres.
Prayitno, 1998, Konseling Pancawashita, progdi BK PPB, FIP, IKIP Padang
Rosjidan, 1998, Pengantar Teori-teori Konseling, Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK, Jakarta
Surya, M., 1988, Dasar-Dasar Konseling Pendidikan, Kota Kembang, Yogyakarta.
KATA PENGANTAR
Puji
syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNyalah
sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini dengan penuh keyakinan serta usaha
yang maksimal. Semoga dengan terselesaikannya tugas ini dapat memberikan
pelajaran positif bagi kita semua. Selanjutnya saya juga mengucapkan terima
kasih kepada Cevy Amelia M. Psi sebagai dosen pembimbing mata kuliah Intrumen
BK Dalam Sekolah yang telah mempercayakan tugas ini kepada saya sehingga dapat
memicu motifasi saya untuk senantiasa belajar lebih giat dan menggali ilmu
lebih dalam sehingga dapat menemukan hal-hal baru yang belum saya ketahui.
Terima
kasih juga saya sampaikan atas petunjuk yang diberikan sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini dengan usaha yang
maksimal .Terima kasih atas dukungan para pihak yang turut membantu
terselesaikannya makalah ini,teman-teman serta semua pihak yang penuh kebaikan
dalam membantu saya.
Terakhir
sekali sebagai manusia biasa yang mencoba berusaha sekuat tenaga dalam
menyelesikan makalah ini tetapi tetap saja tidak luput dari sifat manusiawi
yang penuh khilaf dan salah,oleh karena itu segenap saran saya harapkan dari
semua pihak guna perbaikan tugas-tugas serupa di masa mendatang.
Penyusun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar